Bangunan ini didirikan guna merespon karakter pasar di kota Kediri, sehingga management Awor Coffee memperluas segmentasi sebuah coffee shop menjadi semacam dining restaurant, yang menyediakan beberapa menu makanan. Sehingga Awor Kediri tidak saja ditujukan untuk anak muda, namun juga keluarga. Dengan site yang cukup luas maka diharapkan desain yang akan diwujudkan nantinya dapat mengakomodir dan menjawab bisnis plan pihak Awor Coffee.
Site project berada dikawasan stasiun kereta api Kota Kediri tepat ditepi jalur kereta. Kondisi eksisting, sudah terdapat bangunan milik PJKA yang terlihat dari kondisi fisiknya digunakan sebagai hunian para pegawai jawatan pada masanya.
Kondisi bangunan lama masih dalam kondisi utuh pada waktu survey akhir, meski sudah mengalami beberapa kerusakan dan terdapat penambahan bangunan baru yang terbuat dari batu bata ekspose. Menurut cerita, bangunan ini sempat akan dipergunakan pihak lain sebagai ruang usaha namun belum sempat terealisasi. Sehingga akhirnya diambil alih oleh pihak Awor Coffee.
Dengan berbagai pertimbangan, designer merekomendasikan desain tetap mempertahankan kondisi eksisting bangunan yang lama maupun yang baru. Konsep yang absolutarsitek usung adalah adaptive reuse.
Meskipun bangunan lama ini bukan termasuk bangunan cagar budaya, designer dan owner mencoba mempertahankan bentuk fisiknya seperti adanya dengan hanya melakukan penggantian material beberapa elemen atap dan dinding yang sudah tidak layak. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk tetap memberikan sense of place dari sebuah kawasan stasiun kereta yang dapat dikatakan tipikal di pulau Jawa.
Selain sebagai ruang komersil (coffee shop dan restaurant), tempat ini juga menyediakan ruang mezzanine yang berbatasan dengan jalur kereta sehingga pengunjung dapat menikmati hilir mudik kereta sembari menikmati kopi dan makanann.
Dari segi arsitektural, upaya untuk mempertahankan wujud dan material bangunan seperti aslinya tentunya diharapkan tetap dapat menjaga pengalaman ruang yang memang sudah terbentuk dalam kawasan tersebut. Meski beberapa tambahan material baru tetap dilakukan sebagai salah satu strategi untuk juga merespon kondisi eksisting yang sebelumnya sudah ada.
Dinding batu bata ini yang diekspose ini merupakan elemen baru yang berada disisi depan bangunan lama. Wujud fisiknya yang cukup dominan dan masif sangat disayangkan kalau harus dibongkar. Solusi desain yang ditawarkan adalah dengan merespon batu bata ekspose ini dengan detail bata ringan yang berwarna putih agar tetap sesuai dengan brand guideline yang menjadi salah satu tone-colour Awor Coffee. Pesan yang ingin kami sampaikan dalam konteks ini adalah tentang bagaimana seharusnya desain dapat mendialogkan dua hal yang berbeda masa dna karakter. Dengan merajut dan menjahit material “tradisional” yang direpresentasikan dengan batu bata dengan material atau elemen fabrikasi modern (direpresentasikan oleh bata ringan).
Konsekuensi dari pemanfaatan bata ringan sebagai elemen fasade ini adalah sedikit menutup skyline dari bangunan lama. Namun guna tetap memperkuat pengamalan ruangnya kami olah bagian interior dengan tetap mempertahankan dan mengekspose bagian kerangka atap serta mempertahankan beberapa tembok-tembok tebal yang menjadi kekhasan bangunan tua.
Bangunan ini didirikan guna merespon karakter pasar di kota Kediri, sehingga management Awor Coffee memperluas segmentasi sebuah coffee shop menjadi semacam dining restaurant, yang menyediakan beberapa menu makanan. Sehingga Awor Kediri tidak saja ditujukan untuk anak muda, namun juga keluarga. Dengan site yang cukup luas maka diharapkan desain yang akan diwujudkan nantinya dapat mengakomodir dan menjawab bisnis plan pihak Awor Coffee.
Site project berada dikawasan stasiun kereta api Kota Kediri tepat ditepi jalur kereta. Kondisi eksisting, sudah terdapat bangunan milik PJKA yang terlihat dari kondisi fisiknya digunakan sebagai hunian para pegawai jawatan pada masanya.
Kondisi bangunan lama masih dalam kondisi utuh pada waktu survey akhir, meski sudah mengalami beberapa kerusakan dan terdapat penambahan bangunan baru yang terbuat dari batu bata ekspose. Menurut cerita, bangunan ini sempat akan dipergunakan pihak lain sebagai ruang usaha namun belum sempat terealisasi. Sehingga akhirnya diambil alih oleh pihak Awor Coffee.
Dengan berbagai pertimbangan, designer merekomendasikan desain tetap mempertahankan kondisi eksisting bangunan yang lama maupun yang baru. Konsep yang absolutarsitek usung adalah adaptive reuse.
Meskipun bangunan lama ini bukan termasuk bangunan cagar budaya, designer dan owner mencoba mempertahankan bentuk fisiknya seperti adanya dengan hanya melakukan penggantian material beberapa elemen atap dan dinding yang sudah tidak layak. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk tetap memberikan sense of place dari sebuah kawasan stasiun kereta yang dapat dikatakan tipikal di pulau Jawa.
Selain sebagai ruang komersil (coffee shop dan restaurant), tempat ini juga menyediakan ruang mezzanine yang berbatasan dengan jalur kereta sehingga pengunjung dapat menikmati hilir mudik kereta sembari menikmati kopi dan makanann.
Dari segi arsitektural, upaya untuk mempertahankan wujud dan material bangunan seperti aslinya tentunya diharapkan tetap dapat menjaga pengalaman ruang yang memang sudah terbentuk dalam kawasan tersebut. Meski beberapa tambahan material baru tetap dilakukan sebagai salah satu strategi untuk juga merespon kondisi eksisting yang sebelumnya sudah ada.
Dinding batu bata ini yang diekspose ini merupakan elemen baru yang berada disisi depan bangunan lama. Wujud fisiknya yang cukup dominan dan masif sangat disayangkan kalau harus dibongkar. Solusi desain yang ditawarkan adalah dengan merespon batu bata ekspose ini dengan detail bata ringan yang berwarna putih agar tetap sesuai dengan brand guideline yang menjadi salah satu tone-colour Awor Coffee. Pesan yang ingin kami sampaikan dalam konteks ini adalah tentang bagaimana seharusnya desain dapat mendialogkan dua hal yang berbeda masa dna karakter. Dengan merajut dan menjahit material “tradisional” yang direpresentasikan dengan batu bata dengan material atau elemen fabrikasi modern (direpresentasikan oleh bata ringan).
Konsekuensi dari pemanfaatan bata ringan sebagai elemen fasade ini adalah sedikit menutup skyline dari bangunan lama. Namun guna tetap memperkuat pengamalan ruangnya kami olah bagian interior dengan tetap mempertahankan dan mengekspose bagian kerangka atap serta mempertahankan beberapa tembok-tembok tebal yang menjadi kekhasan bangunan tua.
Bangunan ini didirikan guna merespon karakter pasar di kota Kediri, sehingga management Awor Coffee memperluas segmentasi sebuah coffee shop menjadi semacam dining restaurant, yang menyediakan beberapa menu makanan. Sehingga Awor Kediri tidak saja ditujukan untuk anak muda, namun juga keluarga. Dengan site yang cukup luas maka diharapkan desain yang akan diwujudkan nantinya dapat mengakomodir dan menjawab bisnis plan pihak Awor Coffee.
Site project berada dikawasan stasiun kereta api Kota Kediri tepat ditepi jalur kereta. Kondisi eksisting, sudah terdapat bangunan milik PJKA yang terlihat dari kondisi fisiknya digunakan sebagai hunian para pegawai jawatan pada masanya.
Kondisi bangunan lama masih dalam kondisi utuh pada waktu survey akhir, meski sudah mengalami beberapa kerusakan dan terdapat penambahan bangunan baru yang terbuat dari batu bata ekspose. Menurut cerita, bangunan ini sempat akan dipergunakan pihak lain sebagai ruang usaha namun belum sempat terealisasi. Sehingga akhirnya diambil alih oleh pihak Awor Coffee.
Dengan berbagai pertimbangan, designer merekomendasikan desain tetap mempertahankan kondisi eksisting bangunan yang lama maupun yang baru. Konsep yang absolutarsitek usung adalah adaptive reuse.
Meskipun bangunan lama ini bukan termasuk bangunan cagar budaya, designer dan owner mencoba mempertahankan bentuk fisiknya seperti adanya dengan hanya melakukan penggantian material beberapa elemen atap dan dinding yang sudah tidak layak. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk tetap memberikan sense of place dari sebuah kawasan stasiun kereta yang dapat dikatakan tipikal di pulau Jawa.
Selain sebagai ruang komersil (coffee shop dan restaurant), tempat ini juga menyediakan ruang mezzanine yang berbatasan dengan jalur kereta sehingga pengunjung dapat menikmati hilir mudik kereta sembari menikmati kopi dan makanann.
Dari segi arsitektural, upaya untuk mempertahankan wujud dan material bangunan seperti aslinya tentunya diharapkan tetap dapat menjaga pengalaman ruang yang memang sudah terbentuk dalam kawasan tersebut. Meski beberapa tambahan material baru tetap dilakukan sebagai salah satu strategi untuk juga merespon kondisi eksisting yang sebelumnya sudah ada.
Dinding batu bata ini yang diekspose ini merupakan elemen baru yang berada disisi depan bangunan lama. Wujud fisiknya yang cukup dominan dan masif sangat disayangkan kalau harus dibongkar. Solusi desain yang ditawarkan adalah dengan merespon batu bata ekspose ini dengan detail bata ringan yang berwarna putih agar tetap sesuai dengan brand guideline yang menjadi salah satu tone-colour Awor Coffee. Pesan yang ingin kami sampaikan dalam konteks ini adalah tentang bagaimana seharusnya desain dapat mendialogkan dua hal yang berbeda masa dna karakter. Dengan merajut dan menjahit material “tradisional” yang direpresentasikan dengan batu bata dengan material atau elemen fabrikasi modern (direpresentasikan oleh bata ringan).
Konsekuensi dari pemanfaatan bata ringan sebagai elemen fasade ini adalah sedikit menutup skyline dari bangunan lama. Namun guna tetap memperkuat pengamalan ruangnya kami olah bagian interior dengan tetap mempertahankan dan mengekspose bagian kerangka atap serta mempertahankan beberapa tembok-tembok tebal yang menjadi kekhasan bangunan tua.