Hotel ini didesain oleh Sonnny Sutanto Architects. Sementara itu, interiornya ditangani oleh CWDO (Creative Whole Design Office) yang baru masuk ke dalam proyek setelah GAIA Cosmo Hotel Yogyakarta ini memasuki tahap topping-off. Konsep desain awal yang diterapkan dalam proyek ini adalah nature oriented, karena arti dari nama GAIA sendiri dalam mitos Yunani berarti ‘mother of earth’. Dalam penerapannya kemudian, konsep tersebut digali untuk membawa budaya lokal ke dalam desain dan atmosfer hotel dengan memasukan unsur gamelan, joglo, batik parang, dan banyak lainnya.
Pendekatan lokalitasnya diterapkan pada unsur-unsur desain yang terpinspirasi dari budaya dan sejarah kota Yogyakarta itu sendiri. Unsur ini tidak diterjemahkan secara mentah ke dalam desain, melainkan melalui sebuah pendekatan abstrak. Salah satu contohnya adalah implementasi batik. CWDO memasukkan unsur batik dalam prosesnya (membatik), di mana sang pengerajin biasanya memakai warna yang lebih gelap dahulu dalam membuat batik, lalu ditumpuk dengan proses pewarnaan yang lebih terang. Esensi dari proses tersebut dihadirkan dalam sebuah gradasi dari pemilihan warna yang ada menuju transparan.
Hotel ini didesain oleh Sonnny Sutanto Architects. Sementara itu, interiornya ditangani oleh CWDO (Creative Whole Design Office) yang baru masuk ke dalam proyek setelah GAIA Cosmo Hotel Yogyakarta ini memasuki tahap topping-off. Konsep desain awal yang diterapkan dalam proyek ini adalah nature oriented, karena arti dari nama GAIA sendiri dalam mitos Yunani berarti ‘mother of earth’. Dalam penerapannya kemudian, konsep tersebut digali untuk membawa budaya lokal ke dalam desain dan atmosfer hotel dengan memasukan unsur gamelan, joglo, batik parang, dan banyak lainnya.
Pendekatan lokalitasnya diterapkan pada unsur-unsur desain yang terpinspirasi dari budaya dan sejarah kota Yogyakarta itu sendiri. Unsur ini tidak diterjemahkan secara mentah ke dalam desain, melainkan melalui sebuah pendekatan abstrak. Salah satu contohnya adalah implementasi batik. CWDO memasukkan unsur batik dalam prosesnya (membatik), di mana sang pengerajin biasanya memakai warna yang lebih gelap dahulu dalam membuat batik, lalu ditumpuk dengan proses pewarnaan yang lebih terang. Esensi dari proses tersebut dihadirkan dalam sebuah gradasi dari pemilihan warna yang ada menuju transparan.
Hotel ini didesain oleh Sonnny Sutanto Architects. Sementara itu, interiornya ditangani oleh CWDO (Creative Whole Design Office) yang baru masuk ke dalam proyek setelah GAIA Cosmo Hotel Yogyakarta ini memasuki tahap topping-off. Konsep desain awal yang diterapkan dalam proyek ini adalah nature oriented, karena arti dari nama GAIA sendiri dalam mitos Yunani berarti ‘mother of earth’. Dalam penerapannya kemudian, konsep tersebut digali untuk membawa budaya lokal ke dalam desain dan atmosfer hotel dengan memasukan unsur gamelan, joglo, batik parang, dan banyak lainnya.
Pendekatan lokalitasnya diterapkan pada unsur-unsur desain yang terpinspirasi dari budaya dan sejarah kota Yogyakarta itu sendiri. Unsur ini tidak diterjemahkan secara mentah ke dalam desain, melainkan melalui sebuah pendekatan abstrak. Salah satu contohnya adalah implementasi batik. CWDO memasukkan unsur batik dalam prosesnya (membatik), di mana sang pengerajin biasanya memakai warna yang lebih gelap dahulu dalam membuat batik, lalu ditumpuk dengan proses pewarnaan yang lebih terang. Esensi dari proses tersebut dihadirkan dalam sebuah gradasi dari pemilihan warna yang ada menuju transparan.