Budaya konsumerisme, pada masa kejayaannya, membuat gaya hidup manusia mengarah kepada paradigma berpikir yang "maximalist". Era pandemi membuat manusia mulai meninggalkan segala yang berlebihan dan mulai merangkul segala yang sederhana, mengacu pada kualitas pengalaman, dan nilai-nilai yang lebih berfokus pada peningkatan kualitas hidup. Kerangka berpikir ini membuat gaya hidup manusia secara global mengarah pada "minimalism".
Filosofi minimalism sendiri mengacu kepada peningkatan kualitas hidup individu dan mengesampingkan segala distraksi dalam perjalanannya. Mengacu pada filosofi inilah maka layout Wonderhouz didesain dengan konsep "open-space" dan menekankan konsep multifungsi pada desain furniturnya. Dikarenakan juga oleh isu lahan, hubungan antar ruang dibuat sama sekali tak ada distraksi kecuali bidang-bidang yang tercipta dari proses bangun Arsitekturalnya. Sehingga ketika memasuki ruang jeda pada area masuk, kesan yang dihasilkan adalah keterbukaan ruang yang lapang dan mengalir secara bebas.
Material yang digunakan adalah ekspresi natural dari kayu, tumbuhan, tekstur kain tenun, dan elemen alam lainnya. Penggabungan antara garis-garis linear yang menyeluruh dari lantai bawah sampai atas dan material yang modern dan natural menunjukkan konsistensi minimalism yang ingin dicapai. Selain tetap berjalan pada komitmen isu keberlanjutan, material yang dipilih adalah yang ramah lingkungan dan mengedepankan isu lokalitas.
Budaya "tiny house" yang kekinian menjadi produk akhir dari sebab-akibat yang terjadi antara ruang luar dan dalam, antara elemen Arsitektur dan Interior. Sehingga adanya furnitur yang multifungsi, misalnya di area ruang makan, dihadirkan meja makan yang dapat dilipat sewaktu-waktu jika pengguna membutuhkan luasan ruang yang lebih besar, guna menampung aktivitas yang lebih kompleks.
Budaya konsumerisme, pada masa kejayaannya, membuat gaya hidup manusia mengarah kepada paradigma berpikir yang "maximalist". Era pandemi membuat manusia mulai meninggalkan segala yang berlebihan dan mulai merangkul segala yang sederhana, mengacu pada kualitas pengalaman, dan nilai-nilai yang lebih berfokus pada peningkatan kualitas hidup. Kerangka berpikir ini membuat gaya hidup manusia secara global mengarah pada "minimalism".
Filosofi minimalism sendiri mengacu kepada peningkatan kualitas hidup individu dan mengesampingkan segala distraksi dalam perjalanannya. Mengacu pada filosofi inilah maka layout Wonderhouz didesain dengan konsep "open-space" dan menekankan konsep multifungsi pada desain furniturnya. Dikarenakan juga oleh isu lahan, hubungan antar ruang dibuat sama sekali tak ada distraksi kecuali bidang-bidang yang tercipta dari proses bangun Arsitekturalnya. Sehingga ketika memasuki ruang jeda pada area masuk, kesan yang dihasilkan adalah keterbukaan ruang yang lapang dan mengalir secara bebas.
Material yang digunakan adalah ekspresi natural dari kayu, tumbuhan, tekstur kain tenun, dan elemen alam lainnya. Penggabungan antara garis-garis linear yang menyeluruh dari lantai bawah sampai atas dan material yang modern dan natural menunjukkan konsistensi minimalism yang ingin dicapai. Selain tetap berjalan pada komitmen isu keberlanjutan, material yang dipilih adalah yang ramah lingkungan dan mengedepankan isu lokalitas.
Budaya "tiny house" yang kekinian menjadi produk akhir dari sebab-akibat yang terjadi antara ruang luar dan dalam, antara elemen Arsitektur dan Interior. Sehingga adanya furnitur yang multifungsi, misalnya di area ruang makan, dihadirkan meja makan yang dapat dilipat sewaktu-waktu jika pengguna membutuhkan luasan ruang yang lebih besar, guna menampung aktivitas yang lebih kompleks.
Budaya konsumerisme, pada masa kejayaannya, membuat gaya hidup manusia mengarah kepada paradigma berpikir yang "maximalist". Era pandemi membuat manusia mulai meninggalkan segala yang berlebihan dan mulai merangkul segala yang sederhana, mengacu pada kualitas pengalaman, dan nilai-nilai yang lebih berfokus pada peningkatan kualitas hidup. Kerangka berpikir ini membuat gaya hidup manusia secara global mengarah pada "minimalism".
Filosofi minimalism sendiri mengacu kepada peningkatan kualitas hidup individu dan mengesampingkan segala distraksi dalam perjalanannya. Mengacu pada filosofi inilah maka layout Wonderhouz didesain dengan konsep "open-space" dan menekankan konsep multifungsi pada desain furniturnya. Dikarenakan juga oleh isu lahan, hubungan antar ruang dibuat sama sekali tak ada distraksi kecuali bidang-bidang yang tercipta dari proses bangun Arsitekturalnya. Sehingga ketika memasuki ruang jeda pada area masuk, kesan yang dihasilkan adalah keterbukaan ruang yang lapang dan mengalir secara bebas.
Material yang digunakan adalah ekspresi natural dari kayu, tumbuhan, tekstur kain tenun, dan elemen alam lainnya. Penggabungan antara garis-garis linear yang menyeluruh dari lantai bawah sampai atas dan material yang modern dan natural menunjukkan konsistensi minimalism yang ingin dicapai. Selain tetap berjalan pada komitmen isu keberlanjutan, material yang dipilih adalah yang ramah lingkungan dan mengedepankan isu lokalitas.
Budaya "tiny house" yang kekinian menjadi produk akhir dari sebab-akibat yang terjadi antara ruang luar dan dalam, antara elemen Arsitektur dan Interior. Sehingga adanya furnitur yang multifungsi, misalnya di area ruang makan, dihadirkan meja makan yang dapat dilipat sewaktu-waktu jika pengguna membutuhkan luasan ruang yang lebih besar, guna menampung aktivitas yang lebih kompleks.